Menunggu sang senja
Karya: Nasya Maulidia RahmanLirih kurapal namamu dalam hening yang paling khusyuk
Suara yang menjelma doa-doa singkat, sekadar menembus kabarmu.
Pesonamu yang megah membutakan netraku.
Jiwaku terpana saat rekah bibirmu menyapa
Sosokmu adalah puisi hidup yang tak pernah berhenti kukagumi
Kupungut beberapa rasa, merakitnya dalam susunan aksara
Ini tentang sebuah frasa yang tak banyak orang mengerti
Barangkali kamu amerta pada keindahan laut
Menatap langit malam adalah caraku mengeja lekuk parasmu
Saat jemari yang tak pernah berhenti merapal namamu
Aku memujamu dalam kilau keindahan parasmu
Dekapanmu menjadi rumah paling teduh bagi jiwaku
Karenamu aku terlihat lebih elok
Menantimu ditengah ketidakpastian hati
Kumohon, jangan menyuruhku untuk berhenti
Mencintaimu adalah bagian paling anindya dalam garis takdirku
Medan, 12 Augustus 2026