Sekurang-kurangnya Aku
Karya: Desryana SinagaSekurang-kurangnya aku,
mungkin tak selalu menjelma cahaya,
kadang hanya bayang yang terlalu diam
atau angin yang lewat tanpa aba-aba.
Tapi tidakkah kau ingat
akulah yang dulu menjemput senyummu
dengan lelucon yang tak lucu, namun cukup untuk membuatmu lupa letih.
Aku yang pernah menjadi hangat di antara harimu yang beku,
yang tak sempurna, tapi hadir dengan ketulusan paling utuh.
Jika hari ini aku menyebalkan,
barangkali hatiku sedang tak pandai bicara,
namun ingatlah, aku juga pernah jadi langit tempat tawamu berlayar.
Jangan nilai aku dari satu sobekan, karena aku juga menjahitmu berkali-kali, tanpa kamu minta, tanpa kamu sadari.
Sekurang-kurangnya aku,
Aku pernah jadi rumah bagi tawamu.
Dan bukankah itu cukup untuk kamu beri ruang,
meski hanya sebaris maaf?
Pematangsiantar, 4 Maret 2026