Karya: Nadia Julia Putri
Hai, Tuan tenang.
Bagaimana rasanya berdansa di atas kehancuranku?
Elok parasmu menutupi lakon busukmu.
Gagah memamerkan gigi, seakan tak ada yang salah dalam diri.
Lihai bersandiwara bak protagonis dalam pentas seni.
Masih ingatkah saat kau tusukkan jarum pengkhianatan itu?
Melukaiku lalu lempar tangan seakan manusia lugu tak berdosa.
Jangankan mengucap maaf, aku bahkan tak pernah lagi melihat batang hidungmu.
Oh, mungkin itulah Tuan tenang dengan caranya.
Kau sakiti wanitamu berkali kali.
Berlagak tenang seolah aku lah sang dalang.
Menyelewengkan setiap perdebatan seperti ahli.
Kau obrak abrik pikiranku dengan lancang.
Wahai, Tuan tenang.
Kelak kau akan mengerti.
Tenangmu itu bukan berarti menang.
Melainkan refleksi hatimu yang telah mati.
Samarinda, 18 Agustus 2026