Karya: Masfufah ash fiyah
Setia?
Pernah kuanggap ia seperti akar—
diam, tak terlihat, namun memilih tetap tinggal.
Aku mengenalnya saat langkahnya masih mencari arah,
saat namanya belum dipeluk cahaya.
Di malam-malam panjang, kami menenun tawa dari luka.
Aku tinggal ketika dunia belum menoleh,
menemani dari titik paling sunyi.
Lalu ia tumbuh menjadi cahaya.
Namun ketika benderangnya tiba,
aku justru menjadi bayang-bayang yang dilupakannya.
Datang seseorang yang baru,
sementara aku tertinggal bersama kenangan
yang pernah kami sebut rumah.
Sejak itu aku tahu—
kesetiaan tak selalu menemukan tempat untuk pulang.
Maka jika kelak kau bertanya apa arti setia,
akan kujawab pelan:
aku pernah menjadi rumah bagi seseorang,
yang memilih lupa setelah menemukan jalannya pulang.
Medan, 19 Agustus 2026