SETIA: Di Antara Retak, Doa, dan Cahaya
Karya: Maria bulan purnamasari pauSenja tak pernah mengadili langit yang kehilangan separuh cahayanya; demikian pula aku, belajar mengeja kasih dari rekahan waktu. Tuhan menenun takdir dengan benang keabadian, hingga sunyi berubah menjadi harapan.
Elegi bersemayam di ruang-ruang doa menjelma embun pada fajar. Dua pelita tak lagi menyala dalam satu rumah, namun nyalanya tetap pulang ke jantung kehidupanku.
Takdir bukan tentang siapa menetap, melainkan siapa tetap menjadi rumah ketika jarak mengubah pelukan menjadi rindu, lalu rindu menjelma doa yang menguatkan langkahku.
Iman mengajariku memeluk bayang sendiri, sebab setiap luka hanyalah gerbang tempat cahaya dilahirkan. Aku belajar mencintai diriku sebagai karya Tuhan tanpa menunggu dunia memahami seluruh kisahku.
Akhirnya kusadari, setia bukan sekadar bertahan, melainkan memilih kasih meski musim berganti. Bersama Tuhan, dua pelita tetap menyinari langkah anaknya melalui doa yang tak pernah padam, selamanya hidup.
Maumere 4 Agustus 2026