Surat yang Tak Pernah Dikirim
Karya: Lia rounaqi faidlohSayang,
Andai kamu tahu,
Berapa kali pintu kubuka hanya untuk kututup kembali
Saat marah membuat dada sesak
Saat ego menawariku seribu nama baru
Tapi kakiku tetap menapak di tanah yang sama
Tanah tempat kita belajar menambal malam
Dengan obrolan jam 2 pagi dan kopi yang keburu dingin
Tempat kita saling meminjam bahu saat dunia terlalu bising
Tempat tawa kita pecah paling nyaring di antara diam
Aku tidak setia karena takut kehilangan
Aku setia karena aku sudah menemukan
utara terakhirku
Dan utara itu pulang ke namamu
Jadi biarkan waktu menguji
Biarkan tahun menambah uban
Aku tetap ingin menggenggam tangan yang sama
Sampai napas terakhirku masih memanggil namamu
— surat ini kutulis, walau tak akan pernah kukirim
Malang, 6 Agustus 2026