Karya: Latifa Khirani
Kau menyalakan api
dari delusi yang bahkan tak pernah kau janjikan,
lalu membiarkannya tumbuh
seolah aku memang pantas mempercayainya.
Aku tak pernah memintanya,
tetapi fatamorgana sempat kupanggil cahaya,
menjalar secepat kilat
hingga kukira ia akan menjadi nyala.
Lalu kau berpaling,
membawa langkahmu ke arah berbeda,
meninggalkan bara
sebelum sempat menjadi api.
Kupikir selesai sampai di sana.
Ternyata lidahmu menjelma belati berkarat;
seribu ujung kata
mengoyak namaku di meja-meja asing.
Di situlah pengkhianatan menancapkan taringnya:
bukan pada langkah yang menjauh,
melainkan ketika kau titipkan namaku
pada mulut-mulut yang tak pernah mengenalku.
Kini, biarlah api itu mati.
Sebab yang kau bakar bukan aku,
melainkan tanganmu sendiri
yang kelak akan mencari hangat
pada abu yang tak lagi mengenalmu.
Jambi, 19 Agustus 2026