Karya: Inas Nilasari
Kau pulang ketika malam hampir kehilangan nama,
membawa bau hujan, asap, dan sisa gelas yang tak kutanya.
Aku masih menyalakan lampu di beranda,
seperti hati yang lupa bagaimana caranya padam.
Kau tak lagi bertanya apakah aku baik-baik saja.
Matamu melewatiku seperti dinding rumah
yang terlalu lama tak mengenal jendela.
Namun aku tetap menjadi air
di sela kerasnya batu dalam dadamu,
menunggu retak kecil tempat kasih tumbuh kembali.
Setiap pagi, aku membangunkanmu,
sementara diriku sendiri lama tertidur dalam sepi.
Kucuci luka, kusimpan kecewa,
kutaruh namamu di atas segala yang kupunya.
Jika kelak kau menoleh,
mungkin kau akan menemukan
aku masih di sini
setia,
meski hampir tak tersisa aku.
Pamekasan, 27 Maret 2003