Karya: HASYIR AHMAD
Aku belajar setia
dari akar yang diam-diam mencengkeram tanah,
meski tak pernah tahu
apakah hujan akan kembali
atau kemarau akan tinggal lebih lama.
Sebab setia bukan perihal
seberapa erat tangan menggenggam,
melainkan seberapa tabah hati
menjaga sesuatu yang dicintainya
tanpa meminta dunia untuk mengerti.
Ada nama-nama yang tak lagi dipanggil,
namun tetap tumbuh di sela doa;
ada jarak yang tak mampu disebrangi,
namun tak pernah cukup jauh
untuk membuat hati belajar melupakan.
Barangkali kesetiaan memang demikian—
menjadi cahaya kecil di ujung senja,
tak gemuruh, tak meminta dipuja,
hanya tetap menyala
ketika seluruh langit memilih padam.
Dan bila kelak waktu mengubah arah,
bila musim menggugurkan segala yang pernah kita jaga,
biarlah aku menjadi pohon yang tak berpindah:
bukan karena takut pada kehilangan,
melainkan karena pernah berjanji
kepada hati sendiri untuk tidak mudah menyerah.
Sebab pada akhirnya,
setia bukan tentang siapa yang tinggal paling lama,
melainkan tentang siapa yang tetap menjaga makna
meski takdir berkali-kali
mengajarkan cara melepaskan.
Jika esok tak lagi membawa apa yang kuharapkan,
aku tak akan menyalahkan langit yang berubah warna.
Aku hanya ingin tetap menjadi seseorang
yang ketika berkata “aku akan tetap di sini,”
tidak menjadikan waktu
sebagai alasan untuk mengingkari.
10 agustus 2026