Lagi-lagi, Sepatu Merah
Karya: Citra Ayu Diah WicayaniDerap hujan datang tiba-tiba.
Lagi-lagi saat tak kupinta.
Anehnya, tak lagi menghujam dada.
Diam-diam ada yang berbeda.
Tak terbaca.
Atau ternyata…
aku enggan menyebutnya.
Tak lagi kutelisik muasal:
kunci yang lagi-lagi tanggal,
tanpa disuguhi salinannya.
Tak apa, barangkali kau lupa.
Tapi, Batin kembali meraung lirih.
Merintih ingin diberi pasti.
Alih-alih menghampiri,
Pintumu malah semakin terkunci.
Lagi-lagi, Sepatu Merah itu,
berlabuh dipintumu.
Terendus aromamu darinya.
Lagi-lagi, kubiarkan rinai meluruhkannya.
Kunciku yang tak berpulang,
nyatanya tergeletak rapi di dalamnya.
Sekujur telah asing.
Namaku tak lagi ada.
Suaraku pilu
meratapi ambang pintu.
Hujan tak lagi mampu
Membasahi jemariku.
Kau yang lebih dulu membuka pintu.
Kubiarkan langkahku menuju pintumu.
Ternyata, setelah itu,
Langitku kau hujani guruh.
Kau sebatas rinai di langit masa.
Sesaat, basahnya lama.
Hujanku telah lama reda.
Tapi, pintuku tak kunjung terbuka.
Meno, 7 agustus 2026