Senja dan Rindunya
Karya: Rahmat Hidayah AsmaraPetang kembali tiba,
memanggil lirih pada hati yang kian duka.
Ia terbangun,
mendapati gurat jingga menyilaukan mata.
Aku menyadari,
bahwa jingga itu membawa dia.
Dia yang tak lagi ada,
dia yang dulu hadir bersama senja.
Jingga ini seperti candu,
ditebarnya serbuk-serbuk memori membentuk dekap.
Dekap yang perlahan menyeruak seperti hembusan angin,
seperti burung dara berpulang memberi rasa aman bagi anaknya kala senja.
Senja itu, sungguh.
Mengingatkan ku kembali,
pada tawa indahnya yang bergulat dengan keindahan jingga.
Pada derai rambut yang mengibas anggun di tepi kota.
Namun, itu membuatku jadi kurang menyukai senja.
Karna desir kemerah-merahan itu, membawa dirinya pulang.
Membawa malang pada ruh ku yang kesepian.
Hingga aku membenci senja. Tidak.
Aku membenci rindu yang perkasa di dalam raga.
Bangkalan, 9 Juli 2026