Saksi Hujan
Karya: Nisa KhumairoHujan turun, namun lupa mengeja makna rahmat.
Tiap rinai menjelma ratap gugur terlambat, hanya mampu mencium luka tanpa kuasa memupus pedih.
Di pelataran Masjidil Aqsa, selaksa doa membeku, menggigil dalam sunyi, menanti kasih tak kunjung berpihak.
Jeritan menjalar langit, namun dunia menjelma dinding tuli.
Segalanya luruh menjadi gema yang tak pernah disambut.
Di sana, maut tak kenal usia.
Belas kasih tercerai bersama reruntuhan, dan nurani dimakamkan dulu dibandingkan jasad yang tak lagi bersuara.
Sedang kami, penghuni kejauhan, hanya mampu menadah pilu dari balik layar beku.
Jemari ini tak sampai mengangkat reruntuhan, tak sempat mengusap darah, tak kuasa mengembalikan pelukan yang direnggut paksa.
Yang tertinggal hanyalah doa, rapuh di hadapan nestapa yang membentang seluas semesta.
Ponorogo, 2 Juli 2026