Anatomi Jingga
Karya: Indah Zahra MaretharaniSore itu runtuh,
dalam dekapmu yang asing.
Membawa sekotak hangat,
yang perlahan bising.
Aku sempat mengira,
Semesta sedang menyusun takdir kita.
Ternyata angin salah berbisik,
di dahan lain, jemarimu sibuk menari,
menebar pikat pada jiwa-jiwa yang menanti.
Kau seperti senja,
ramai dikunjungi,
namun tak pernah berniat menepi.
Sebuah tipuan ilusi,
meninggalkan lebam yang ternyata tinggal.
Kini, kuberandai pada matahari yang mulai hilang,
membawa sisa tanya yang perlahan padam.
Aku memilih pulang,
sebelum gelap benar-benar datang.
Menjemput sunyi,
memeluk malam yang jauh lebih lapang.
Karangmojo, 10 Juli 2026