Pendengarnya
Karya: Emira Ratu ZahirahKala langit kehilangan birunya,
kutitipkan riuh yang tak sempat terucap
pada balkon yang mengenali kakiku.
Di sanalah aku tak perlu menyembunyikan retak.
Semilir angin lebih dulu menyapa,
membawa firasat yang lirih.
Awan belum meluruhkan apa pun,
namun gundahku telah lebih dulu menemukan pendengarnya.
Kutunggu dentingmu,
hingga angin mengabarkan kedatanganmu.
Kusambut hadirmu,
yang tak meminta sepatah kata
ketika leherku tercekik bisu.
Cukup tinggal hingga sunyiku selesai berbicara.
Kupejamkan mata,
biar gemuruh memeluk lara.
Kulepas yang terpendam mengalir tanpa nama.
Tak lagi kutahan yang ingin bermuara.
Isakku yang tenggelam
menemukan daratannya.
Sejak detik itu,
kusadari tak semua yang pecah
meminta rekat;
ada yang hanya ingin diterima.
Barangkali, begitulah hujan.
Tak pernah melukai buminya.
Jakarta, 3 Juli 2026