Renjana Senjaku
Karya: Delia Fransiska Ayu WulandariMungkin ada saatnya senja menetap sebelum rembulan datang secara perlahan, memberikan kenangan dan memori saat ia muncul. Sedikit demi sedikit ia hilang meninggalkan beribu ingatan, hanya asa yang tak dapat menghentikannya kembali. Kau begitu mengesankan, tetapi hilang dalam kesendirian. Kau begitu jahat, membiarkanku sendiri dengan kegelapan. Terimakasih, telah singgah tapi tak sungguh, untuk menetap walau sesaat. Kau pergi dan datang kembali, dan menghilang dalam genangan. Jika ada kalanya kau kembali, bawalah bintang-bintang kemari, agar ku tak sepi saat kau pergi. Setidaknya, semburat senja indahmu teralihkan sejenak digantikan sang kejora, menerangi dan menemani malamku dikala gelap gulita. Hingga sang surya menyingsing kembali dari ufuknya dengan senyuman indah yang setiap kali meninggalkan renjana. Wahai senjaku yang hangat, kini, ku hadir untuk menatapmu kembali, dan bawalah aku bersamamu hingga kita takkan pernah terpisah diantara benang putih dan benang hitam. Karna kau begitu manis, namun kau tak pernah menyadarinya. Hanya penikmat senjalah yang tahu, hingga rela berhenti sejenak demi melepas kepergianmu.
Kediri, 4 Juli 2026