Hujan Yang Tidak Pernah Tergesa
Karya: anindita latifah ismailHujan selalu tahu cara pulang.
Ia datang tanpa mengetuk
Menyapa atap-atap rumah,
dengan suara yang tidak benar-benar sama.
Kadang ia jatuh perlahan,
Seperti seseorang yang takut melukai kenangan.
Kadang ia deras,
Seolah langit sudah terlalu lama memendam cerita.
Aku menyukai hujan
Bukan karena ia membuat dunia menjadi basah, melainkan karena hujan mengajarkan bahwa menangis tidak selalu berarti lemah.
Ada waktu ketika langit pun
Tak sanggup lagi menyimpan mendungnya.
Lalu ia memilih menjatuhkan semuanya,
Setetes demi setetes,
Hingga bumi kembali mampu bernafas.
Barangkali manusia pun begitu.
Kita sering memaksakan senyum,
Menyembunyikan letih,
Menyimpan rindu dibalik tawa,
Hingga lupa bahwa hati juga memiliki batas.
Hujan tidak pernah malu menjadi dirinya sendiri.
Ia tidak meminta maaf
Karena membuat jalanan becek,
Tidak meminta izin
Untuk menghapus debu yang melekat di dedaunan.
Ia hanya datang,
Melakukan tugasnya,
Lalu pergi,
Tanpa berharap dikenang.
Aku sering berdiri di balik jendela
Memperhatikan titik-titik air
Yang berlomba turun di kaca.
Mereka tampak sederhana,
Namun setiap tetes
Membawa perjalanan yang panjang.
Mungkin pernah menjadi awan,
Terbang tinggi bersama angin.
Mungkin pernah menguap dari lautan,
Lalu membara tanpa tujuan,
Hingga akhirnya menemukan rumahnya di bumi.
Begitu pula perasaan
Ada yang datang perlahan,
Bertumbuh tanpa disadari,
Lalu menetap begitu lama hingga sulit untuk dibedakan antara kebiasaan dan cinta.
Ada pula yang singgah sebentar
Mengajarkan banyak hal
Kemudian pergi
Sebelum sempat memberi nama.
Hujan tidak pernah menyiksa siapapun untuk menyukainya.
Sebagaimana orang memilih untuk berteduh,
Sebagian lagi justru berlari,
Membiarkan dirinya basah sambil tertawa sepuasnya.
Dan hujan tetap turun,
Tanpa membedakan siapa yang menerimanya,
Dan siapa yang menghindarinya.
Aku ingin seperti hujan.
Menjadi tenang
Tanpa harus selalu dipahami
Menjadi bermanfaat
Meski tak selalu dipuji.
Datang membawa kesejukan, bukan keributan.
Dan ketika waktuku tiba untuk pergi,
Aku ingin meninggalkan sesuatu,
Yang mampu membuat hati orang lain
Tumbuh lebih hijau dari sebelumnya.
Sebab akhirnya,
Hujan bukan hanya tentang air yang jatuh dari langit
Ia adalah keberanian untuk melepaskan apa yang terlalu lama disimpan.
Tentang kesabaran
Menunggu pelangi
Yang tak pernah datang sebelum badai usai.
Dan tentang keyakinan,
Bahwa setelah langit selesai menangis,
Akan selalu ada cahaya yang perlahan kembali menyapa dunia.
Bogor, 10 juli 2026