Butiran Air yang Luruh
Karya: Yasmin AureliaDerasnya hujan sore ini,
ternyata—
tak mampu meredam suara tangis.
Kutulis namamu di kaca jendela yang berembun,
namun dinginnya malam terlalu cepat menghapusnya,
seolah memintaku untuk lekas lupa.
Semesta seakan tahu—
di balik rintik yang mengetuk kaca,
mengajak bicara,
ada jiwa—
yang tertinggal dalam kesepian.
Dahulu,
aku menyukai hujan karena—
ia membawa pertemuan kita.
Ingatan berputar kembali,
tentang payung yang sengaja kumiringkan agar bahumu tak basah.
Tentang kita yang berlarian,
tak takut tenggelam oleh derasnya gemericik air.
Namun perlahan—
aku sadar.
Hujan hanya datang untuk mengajariku tentang cara merelakan.
Ia seperti awan hitam.
Hadir sebentar, menumpahkan segala rasa, lalu pergi membiarkan langit kembali cerah.
Bengkulu, 15 Juni 2026