Air Mata Langit Membawa Rindu Untuk Ayah
Karya: Sulfanita OldaMalam terasa dingin, perlahan petir menampar bumi dengan suaranya yang nyaring,seakan memberi kabar bahwa Langit kembali menumpahkan air matanya,
jatuh perlahan di jendela kenanganku.
Setiap rintik membawa namamu, Ayah,
nama yang tak pernah hilang didalam ingatanKu meski waktu terus berjalan menjauh dengan ragaMu yang tak pernah terlihat oleh mata.
Aku berdiri di bawah hujan,membasahi tubuh membiarkan dinginnya menyentuh kulitKu,
sebab di antara jutaan tetes yang jatuh
aku merasa ada pelukanmu Ayah
yang dahulu selalu menghangatkan langkahku.
Ayah,
sejak kepergianmu,
rumah masih berdiri di tempat yang sama,
namun ada ruang yang tak lagi terisi.
Kursi tua di sudut ruangan diam membisu,
seolah Anak gadisMu ini menunggu yang tak akan kembali mengetuk pintu rumah.
Hujan turun semakin deras.
Langit seperti mengerti
betapa rinduku tumbuh tanpa batas.
Aku menitipkan doa pada setiap tetesnya,
agar sampai ke tempatmu berada yang tak bisa kutemui di tempat manapun di bumi ini, membawa kabar bahwa anak gadismu masih belajar tegar,ikhlas, dan perlahan bangkit meski sering kalah oleh kenangan bersamaMu.
Aku ingat tanganmu, Ayah,
tangan yang mengajarkanku bangkit
saat dunia terasa terlalu berat untuk aku jalani.
Tangan yang tak pernah lelah bekerja,
meski luka dan letih bersembunyi di balik senyummu.
Kini tangan itu tinggal dalam ingatan,
tetapi kasihmu hidup di setiap langkahku.
Dan ketika langit menangis malam ini,
aku tak lagi melihat hujan sebagai kesedihan.
Aku melihatnya sebagai surat cinta dariMu
yang dikirim Tuhan dari langit,
agar aku tahu bahwa kehilangan
tidak pernah mampu menghapus kasih sayangMu.
Biarlah air mata langit terus jatuh,
membasahi bumi dan tubuh ini yang kurindukan bersamamu.
Sebab di setiap rintiknya
ada doa yang tumbuh,
ada kenangan yang hidup,
dan ada namamu, Ayah,
yang akan selalu bersemayam
di dalam hatiku.
Meski jarak kini dipisahkan keabadian,
cintaku tak akan pernah selesai untukMu.
Karena rindu kepada ayah
bukan tentang menunggu kembali,
melainkan tentang menjaga kenangan
agar tetap hidup sampai akhir waktu.
Ayah,
jika hujan adalah bahasa langit,
maka setiap tetesnya adalah kata "rindu"
yang tak pernah berhenti menyebut namam, Ayah.
Saling, 13 Juni 2026