Hujan Menelusuri Nama
Karya: Septian Aprilia RamadhanRintik mengetuk kaca setengah terbuka,
membawa kabar dari langit muram.
Tawa dan tangis larut di genangan,
padat di mata, sunyi di dada.
Di bawah mendung enggan beranjak,
langkah manusia dibelokkan
oleh jemari tak terlihat.
Air merayap di retak aspal,
menyeka nama-nama terlupa,
menyisakan kilau minyak di selokan.
Ruang-ruang dibalut bisu:
asing ditatap, meronta didengar.
Tanah letih membuka telapak,
menanti tetes jatuh perlahan.
Hujan memunguti suara tercecer,
membasuh debu menempel pada ingatan.
Di balik mendung tak lekas pergi,
benih-benih terpendam mulai bergerak,
sementara nama-nama nyaris hilang
kembali berdenyut di nadi kota.
Mojokerto, 18 Juni 2026