Senja yang Tak Memilihku
Karya: Ryan Istiqlal PratamaSemburat merah di langit petang menjadi saksi
aku masih menyebut namamu dalam diam,
meski kau telah mematahkan musim
sebelum bunga sempat belajar mekar.
Aku menjadikan senja sebagai alasan.
Kataku, aku hanya menikmati langit
sebelum malam menelan waktuku,
padahal aku hanya ingin memastikan
kau benar-benar masih lewat di sana.
Sayangnya, setiap kali aku ingin menyapamu,
selalu ada cahaya lain
yang lebih dahulu jatuh di wajahmu.
Sedangkan aku hanya senja—
datang perlahan,
namun tak pernah menjadi waktu yang kautunggu.
Kini aku mulai mengikis rasa ini perlahan.
Bagian yang paling kubenci:
menghafal sisi burukmu
agar kekagumanku kehilangan rumahnya sendiri.
Jika suatu hari namamu tak lagi menahan langkahku,
mungkin aku telah berhenti
mencari wajahmu
di langit yang terlalu lama
menyimpan senja tanpa pulang.
Tabang, 09 Juni 2026