Bahasa Langit yang Tak Selesai
Karya: Mutiara Khairun NisaHujan datang tanpa mengetuk jendela,
membawa ribuan cerita dari langit yang lelah.
Ia jatuh satu per satu,
seperti kenangan yang memilih pulang
meski tak lagi memiliki alamat.
Di bawah payung yang renta,
aku mendengar bumi berbicara.
Tentang akar yang setia menunggu,
tentang daun yang rela gugur,
dan tentang manusia yang belajar tabah
dari setiap tetes yang singgah.
Hujan bukan sekadar air,
ia adalah surat panjang dari awan
yang ditulis dengan bahasa kesunyian.
Menyentuh tanah tanpa suara,
namun mampu menumbuhkan kehidupan
di tempat-tempat yang nyaris kehilangan harapan.
Kadang ia turun bersama duka,
membasahi mata yang enggan mengaku terluka.
Kadang ia datang membawa bahagia,
menari di atas atap rumah sederhana
seperti musik yang tak pernah meminta tepuk tangan.
Maka biarlah hujan jatuh hari ini.
Biarlah langit menumpahkan segala yang dipendamnya.
Sebab aku tahu,
setelah badai selesai bercerita,
akan selalu ada pelangi
yang belajar tersenyum dari air mata.
Garut, 15 Juni 2026