MENADAH HUJAN-MU
Karya: Martinus Trano OpatDi bawah gerimis mengetuk kaca jendela
ketika namamu kembali singgah.
Seperti musim yang tak pernah benar-benar pergi,
kau datang membawa mendung,
lalu meletakkan luka di pangkuanku.
Kubiarkan dadaku menjadi atap
bagi hujan yang jatuh dari matamu.
Kubiarkan dingin merayapi malam,
asal dukamu menemukan tempat pulang.
Namun, hujan selalu tahu kapan harus reda.
Begitu langitmu terang,
kau berjalan menuju pelangi yang lain,
meninggalkan jejak-jejak air
yang masih menggenang di hatiku.
Dan ketika musim kembali runtuh,
kau datang lagi tanpa merasa bersalah.
Barangkali aku hanyalah payung tua:
dibuka saat hujan,
dilipat ketika cuaca cerah.
Jogjakarta, 14 Juni 2026