Permintaan Maaf di Balik Hujan
Karya: Jelita TamelanSore ini jendela menelan hujan,
bukan air, tapi gema langkahmu yang dulu pernah hangat—
hangat seperti janji yang kau bisikkan,
"Kau bisa," katamu,
sebelum kau membuktikan bahwa semua kehangatan punya tanggal kedaluwarsa.
Aku kalah.
Bukan oleh orang lain, tapi oleh nafsu percaya pada ilusi.
Kau pergi membawa kata-kata yang kini jadi pecahan kaca,
menusuk tiap kali aku bernapas,
dan aku malah menyalahkan diriku
karena berani memegang kaca itu terlalu lama.
Maka pada hujan ini, aku berbisik:
Maaf.
Maaf telah menyeretmu menyusuri jalan yang bukan takdirmu,
Maaf telah memaksamu bertepuk tangan untuk kepulangan orang lain.
Tapi juga... terima kasih.
Terima kasih telah bertahan sejauh ini, meski kakimu berdarah.
Mari kita pulang.
Cari tempat di mana kita tidak perlu berpura-pura utuh,
di mana hujan hanya air,
dan kita diterima, persis seperti kita: retak, tapi masih bernapas
Kefamenanu, 10 Juni 2026