Rintik yang Tak Sampai
Karya: Halwa Munaya Umnul AkidahMega kelabu tak sanggup bertahan lagi,
bukan karena angin menderu,
melainkan gemuruh dada melampaui batas riuh.
Meluncur jatuh terasa jauh lebih ringan,
sebab menahan hujan hanya akan menyiksa.
Maka gerimis luruh,
membawa keberanian tulus.
Namun cakrawala hanya menyambutnya dengan embusan lembut;
sebuah pengakuan sunyi bahwa pada tempat berpijak,
kisah lama belum tuntas dirapikan dari ingatan.
Sang gerimis akhirnya paham.
Ia melangkah mundur dengan jernih,
mengalir lurus menuju muara yang tak pernah terbayangkan,
tanpa tergesa mempertanyakan hilir yang belum pasti.
Di antara tanah yang perlahan mengering,
rasa menolak fana,
ia memilih tinggal.
Kubiarkan namamu meresap seperti hujan terakhir musim,
mengalir pelan dalam bait-bait doa sunyi.
Semoga kelak, setelah kisahmu tuntas mereda,
waktu melunak menjadi ruang yang lapang,
dan semesta dengan caranya sendiri akan menuntun kita pulang.
Grobogan, 20 Juni 2026