Anatomi Hujan dan Kepala yang Riuh
Karya: Elmira NasyabilahLangit kelam di atas sudut kota runtuh malam ini,
membawa ribuan jarum air tajam yang menghujam bumi.
Mereka jatuh bagai ketukan takdir yang bergegas,
membasuh jelaga hitam di atas atap rumah yang culas.
Hujan datang sebagai kurator ingatan yang begitu dingin,
menyusup jauh di antara celah dinding dan desauan angin.
Bukan untuk mengantarkan bait rindu yang picisan,
melainkan menguliti rasa sepi yang terlanjur berisan.
Ia mengaburkan sudut jalanan yang teramat sunyi dan beku,
seperti caraku menyembunyikan retak hancur di balik senyumku.
Suara gemuruhnya adalah tirai paling sempurna,
menyamarkan seluruh isak luka yang enggan jadi tontonan dunia.
Di bawah langit memar dan aroma tanah pekat,
kini aku pasrah belajar merayakan runtuh dengan sebuah cara yang terhormat.
Pasuruan 16 Juni 2026