Ketika Langit Kehilangan Hak untuk Disebut Atas
Karya: Angellita Salsabila PrasidhaHujan masuk ke pikiran yang retak—ini bukan cuaca, ini cara dunia berpikir ulang.
Membingungkan atas dan bawah dalam kesadaran;
Langit menjadi cara benda melupakan arah.
Air menghapus batas antara ingat dan lupa,
Genangan menulis ulang dunia yang salah.
Kita berdiri dalam ketidakpastian yang tenang.
Setiap tetes adalah argumen yang hilang;
Tidak ada hukum, hanya kebiasaan lama.
Realitas bernapas melalui retakan kecil dunia.
Kita menamai kekacauan agar tampak ramah.
Hujan adalah bumi berpindah bahasa sunyi;
Ia tidak jatuh, hanya berubah bentuk.
Di sela gravitasi, makna tersangkut diam.
Kita hidup di antara naik dan turun,
Yang tidak jadi dan yang belum tiba.
Di sana, bahasa menggantung di udara;
Hujan bukan peristiwa, melainkan jeda panjang.
Pikiran bumi menulis dirinya sendiri.
Kita hanyut dalam makna yang retak.
Diam menjadi cara hujan berpikir:
membiarkan batas retak, hingga kita tak lagi perlu menamai.
Kediri, 29 Juni 2026