Dua Jam, Seumur Hidup
Karya: AjriahDi bawah nyanyian hujan,
dua jiwa lahir beriringan.
Dua jam memisahkan kelahiran,
takdir memisahkan kehidupan.
Di sanalah kisah bermula,
aku dan kamu tumbuh bersama.
Suka dan duka kita rasa,
di bawah langit yang sama.
Aku kira takdir sedang merajut cerita,
namun hanya memberi temu lalu luka.
Kau pergi terlalu cepat,
bagai embun yang lenyap sesaat.
Sejak hujan pada hari itu,
setiap rintiknya membawa namamu.
Dan seperti hujan yang jatuh memburu,
kehilanganmu hadir tanpa mampu kutuju.
Kini hujan telah reda,
namun rindumu tinggal di dada.
Meski waktu terus berlalu,
namamu tetap hidup dalam kalbu.
Sungai Guntung, 22 Juni 2026