Satu Atap,Seribu Jarak
Karya: Yuldea esterSatu Atap, Seribu Jarak
Kamu duduk di kursi yang sama setiap malam,
namun matamu melayang jauh melewati tembok,
seperti orang yang hadir hanya raganya
sementara pikirannya sudah lama berpindah.
Kita makan di meja yang sama setiap sore,
percakapan kita hanya soal tagihan dan cuaca,
dua orang yang dulu hafal mimpi satu sama lain
kini lupa cara memulai sebuah kalimat.
Aku kirim pesan di tengah hari yang sibuk,
kamu membalasnya dua jam kemudian dengan singkat,
padahal layar ponselmu tidak pernah jauh dari tangan—
aku mengerti semuanya, hanya tidak sanggup mengakui.
Kamu tertawa lepas untuk seseorang di layar itu,
tawa yang dulu hanya kamu berikan kepadaku,
aku berpura-pura tidak melihat,
kamu berpura-pura tidak tahu aku melihat.
Jarak bukan selalu soal kilometer dan peta,
kadang hanya dua kursi yang berdampingan
tetapi pemiliknya sudah lama melangkah
ke arah yang berbeda dalam sunyi.
Aku masih memasak untuk dua orang setiap pagi,
meski satu piring sering pulang dalam keadaan dingin,
kebiasaan adalah cinta terakhir yang bertahan
ketika segala rasa perlahan memilih pergi.
Malam ini kamu tidur menghadap dinding,
aku menatap langit-langit yang sama setiap malam,
satu atap yang dulu terasa seperti rumah
kini hanya bangunan tempat dua kesepian berdiam.
Mungkin menjauh bukan berarti berhenti mencinta,
melainkan dua orang yang terlalu lelah
untuk terus mendekat kepada seseorang
yang hatinya sudah memilih jalan pulang sendiri.
Maumere,25 mei 2026