Menari di Atas Luka
Karya: Wili DesparadaJika suatu hari kau bertanya
apa yang sebenarnya paling kuinginkan dari hidup,
maka jawabannya tetap sama
aku hanya ingin baik-baik saja.
Sesederhana itu.
Namun rupanya,
hidup tak pernah benar-benar berjalan
sesederhana harapan manusia.
Aku sudah mengusahakan banyak hal,
menjaga, bertahan, memperjuangkan,
bahkan berkali-kali memaksa diri tetap kuat
meski diam-diam hampir runtuh.
Tetapi semakin dewasa aku mengerti,
bahwa usaha tidak selalu mampu
membujuk semesta untuk berpihak.
Ada hal-hal yang tetap pergi
meski telah dijaga sepenuh hati.
Ada manusia yang tetap salah paham
meski telah dijelaskan berkali-kali.
Dan ada luka
yang tetap tumbuh
meski telah berulang kali disembunyikan.
Mungkin aku memang tak pernah berhasil
menjadi seseorang yang ia harapkan.
Atau mungkin,
ia hanya belum sempat melihat
betapa hancurnya aku saat mencoba bertahan.
Namun aku terlalu lelah
untuk terus meminta dimengerti.
Maka biarlah.
Aku akan berlayar
menuju lautku sendiri,
sementara ia tenggelam
dalam prasangka dan ketidakpahaman
yang tak lagi ingin kujelaskan.
Tidak semua kehilangan
harus dikejar kembali.
Sebab ada rasa sakit
yang begitu melelahkan,
hingga seseorang memilih merelakan
meski hatinya masih ingin tinggal.
Kini aku tak lagi punya tenaga
untuk memaksa segalanya tetap utuh.
Biarlah yang luka berdarah,
yang sakit menangis,
dan yang pergi benar-benar menjauh.
Aku hanya ingin duduk sejenak
di antara reruntuhan perasaanku sendiri,
lalu belajar menerima
bahwa tidak semua yang diperjuangkan
ditakdirkan untuk menetap.
Dan jika pada akhirnya
hidup masih memberi sesak di dada,
akan kunikmati saja perlahan seperti hujan yang jatuh tanpa mampu dicegah,
seperti malam yang tetap datang
meski langit berkali-kali menolak gelap.
Sebab mungkin,
menjadi dewasa memang tentang itu
tetap berjalan
meski hati sudah terlalu lelah
untuk berharap lebih jauh.
Palembang 25 Mei 2026