Sahra Nurseptiani
Bahu yang Tak Pernah PatahDi meja makan yang sunyi
Ada doa-doa yang mengepul bersama uap nasi yang sedikit
Tempat peluh ayah dititipkan pada tiap butir beras
Dan letih ibu dilarutkan dalam air mata yang tak sempat tumpah
Kami adalah raga yang satu
Berdiri di atas tanah yang retak oleh beban ekonomi
Menyaksikan dunia yang kian asing
Menguliti hari-hari yang terasa mencekik
Setiap tagihan berdetak seperti lonceng peringatan
Mengiris harapan pada bagian yang paling rapuh
Hingga batas antara cukup dan kurang
Tak lagi punya pemisah yang nyata
Namun malam ini
Tak ada yang menyerah
Tak ada yang saling menyalahkan atas keadaan
Kami biarkan kesulitan ini menempa kami
Bernapas dalam satu irama perjuangan
Bahu-membahu merajut hari esok
Tanpa membiarkan kemiskinan membunuh martabat keluarga
Cianjur, 4 Mei 2026