Karya: Ribian Elvarina Rahmahyyu
Sejauh Sentuhan, Sedekat Bayangan
Di atas meja kayu yang sama, cangkir kita berdekatan.
Aroma kopi menguar hangat, mengisi sela-sela jemari.
Namun, di antara kita ada tembok tinggi tak kasat mata;
kau hadir sedekat bayangan, namun terasa sejauh sentuhan.
Gawaimu menyala terang, menangkap seluruh rona matamu.
Kau tersenyum pada dunia maya yang entah ada di mana,
sementara aku duduk membeku tepat di sebelah kirimu,
menjelma asing di dalam riuh sepi yang kian menyiksa.
Kulit kita mungkin bisa bersinggungan tanpa sengaja,
namun jiwamu telah berkelana jauh di luar jangkauan netra.
Laksana bayang-bayang hitam di bawah pendar lampu jalan,
selalu setia mengikut, tetapi tak pernah bisa digenggam tangan.
Kita adalah dua manusia yang terjebak dalam satu ruang,
namun perlahan-lahan lupa cara bertukar pandang.
Dekat dalam raga yang saling bersandar pasrah pada malam,
jauh dalam rasa yang kian memudar, tenggelam dalam diam.
Waktu terus bergulir, menyisakan tanya yang tak terucapkan.
Mengapa kebersamaan ini justru melahirkan jarak yang membentang?
Satu jengkal jarak fisik kita terasa bagai ribuan mil samudra;
kita saling memiliki secara raga, namun kehilangan jiwa.
Malang, 15 Mei 2026