Karya: JUANITA NATASYA AMELIA PUTRI
Langkahku adalah detak jam yang dipaksa berlari,
kita berdua serupa sepasang sayap yang patah sebelah.
Namun ku terus mengepak di tengah badai yang membuncah,
mengejarmu, meski napasku bagai kaca yang pecah berkeping.
Kau adalah mercusuar di ujung samudra yang paling kelam,
dan aku adalah perahu retak yang menolak untuk tenggelam.
Kita bersama, merajut perih menjadi seutas tali harapan,
mengejarmu, meski sendi-sendiku mulai kehilangan tumpuan.
Repetisi lelah ini menjadi irama yang paling sunyi,
seperti akar yang menembus batu demi setetes air suci.
Terus mengejarmu, sampai seluruh tubuhku benar-benar patah,
terus mengejarmu, hingga tulang-belulangku menjadi tanah.
Sebab menyerah adalah hantu yang paling aku takuti,
mengejarmu adalah caraku merasa hidup di dalam mati.
Kita akan sampai, walau harus merangkak dengan sisa nyawa,
mengejarmu sampai ku patah, dalam pelukan doa yang membara.
Kediri, 15 Mei 2026