Sedekat Nafas, Sejauh Kenyataan
Kau hadir—
setenang udara yang tak pernah diminta,
namun selalu mengisi setiap ruang
yang tak mampu kutolak untuk merasa.
Aku mengenalmu
tanpa pernah benar-benar memiliki,
hafal caramu diam,
mengerti luka yang tak kau ucapkan,
seolah aku adalah rumah—
yang tak pernah kau tinggali.
Kita sedekat nafas,
tak terlihat, tapi nyata,
mengalir tanpa suara,
menjadi alasan aku bertahan
dalam sunyi yang tak kau sadari.
Namun kenyataan…
selalu punya cara
untuk mengingatkan batas,
bahwa tidak semua yang terasa dekat
diizinkan untuk saling menggenggam.
Aku berdiri di antara
ingin dan harus melepaskan,
mencintai tanpa arah,
menunggu tanpa kepastian.
Dan jika suatu saat
aku tak lagi ada dalam diam yang sama,
bukan karena rasa ini hilang—
tapi karena aku akhirnya mengerti,
bahwa kau adalah nafas
yang hanya boleh kurasakan,
bukan untuk kumiliki
dalam kenyataan.
Medan, 6 Mei 2026