Muhammad Pratama D
Sekat di pelupuk mataKita adalah dua biduk di satu samudra,
Terapung berdampingan di bawah satu rasi.
Ragamu teraba, nyata di hadapan mata,
Namun ruhmu melayang, tersesat di labirin fantasi.
Tersentuh ujung jemari, namun tak terasa hangat,
Terkungkung sekat tak kasatmata yang mengekang.
Hanya pendar layar biru yang mendekap erat,
Memasung jiwamu di dunia yang sunyi dan lengang.
Bibirmu membisu, senyummu menjadi fana,
Tenggelam dalam riuh dunia yang tak pernah usai.
Kita sedekat napas, namun sejauh purnama,
Terjebak dalam jeda yang perlahan mengurai.
Wahai penjelajah fana di balik dinding kaca,
Kapan kiranya jembatan hati kembali kau bina?
Pulanglah ke pelukan murni yang sesungguhnya,
Sebelum semua rasa habis di gerogoti hampa.
Garut, 5 Mei 2026