Karya: Kesya Alaila Putri Abdullah
Epilog ini kutulis bukan di dermaga,
melainkan peti dayung yang tak pernah terbuka.
Dan kita tidak pernah menjadi tokoh utama,
layaknya cerita penyelamatan yang megah.
Dulu, kita sibuk mengira siapa yang basah.
Sementara lubang itu sudah ada,
sejak sekoci dipaku pertama kali,
oleh sepasang tangan yang sama.
Aku teriak selatan, kau berbisik utara.
Kompas yang kita beli bersama,
ternyata hanyalah mainan anak-anak.
Kita memilih untuk pura-pura buta,
sambil tertawa di atas kayu yang retak.
Air naik menyentuh pergelangan,
merambat ke kaki,
ke dada,
ke kenangan-kenangan kecil,
yang kita sembunyikan di saku perjalanan.
Aku kedinginan.
Kita berhenti berdebat tentang arah tujuan.
""Kalau ini ujungnya, jangan saling menenggelamkan""
Akhirnya, kita tak lagi menuju dermaga,
tapi kita belajar tenggelam.
Tanpa saling menuduh,
siapa yang lebih dulu melepas.
Ambon, 23 Mei 2026