Karya: Hilyatul Zahra
Di ujung harapan yang hampir pupus,
Aku berdiri di bawah atap yang gemetar,
Berbisik lirih pada sang kasih,
Tentang kisah yang meredup di pelupuk mata.
Di ruang mana lagi rasa ini harus berlabuh,
Sebagai sisa jiwa yang mendamba genggaman?
Di peti mana lagi kenangan ini harus terkubur,
Sebagai artefak yang dulu sempat aku tuhankan?
Waktu berjalan bagai sayatan sembilu,
Memutus nadi dari pelukan yang dipaksa lepas.
Dan di tengah semesta yang angkuh membelakangi,
Aku tetap memeluk luka hingga ia luluh menjadi doa.
Pada garis takdir yang telah tertoreh,
Aku menantangnya sekali lagi, meski harus kembali berdarah.
Jakarta, 21 Mei 2026