Di Sebelahku, yang Paling Jauh
Karya: HERU SUMARNO, S.S., Gr.Di Sebelahku, yang Paling Jauh
Karya: Heru Sumarno
Di meja makan, yang membeku bukan hanya nasi.
Sendok beradu lirih—bahasa kehilangan tubuhnya.
Lampu neon gemetar di ruang tanpa percakapan.
Dua wajah tenggelam di altar layar tanpa tidur.
Notifikasi turun seperti hujan yang tak menyentuh jiwa.
Gelas berembun memisahkan dua kesepian.
Jam dinding mengunyah sisa umur meja makan.
Sunyi lebih dahulu menghabiskan hidangan.
Jari-jari mengembara ke dunia tanpa mata.
Kita lupa bagaimana menatap satu sama lain.
Namamu terdengar seperti doa yang ditolak langit.
Tak ada seorang pun benar-benar pulang malam itu.
Lalu listrik padam tanpa belas kasihan.
Layar-layar roboh ke dalam gelap.
Yang paling jauh ternyata duduk tepat di sebelahku—
suara manusia tinggal abu di genggaman cahaya.
11 MEI 2026