Audit terhadap Malam
Karya: Hana GadizaDi minimarket,
orang-orang berdiri membawa kebutuhannya masing-masing.
Susu.
Obat batuk.
Sebungkus mi instan
untuk makan malam
yang terlambat datang.
Kasir menghitung satu per satu.
Pelanggan tua di ujung depan
membuka dompet
yang jahitannya mulai lepas
dan kulitnya mengelupas,
mencari receh
di antara struk belanja pudar
dan kartu berobat
yang sudutnya lebih aus
daripada tiket pesawat mana pun.
Antrean melambat.
Orang di belakang melihat jam tangan.
Jam pulang lewat tiga puluh menit lalu.
Pesan dari rumah
belum sempat dibalas.
Esok pagi
sudah mulai terasa
di pundaknya.
Tetapi ia tidak mendesak.
dibiarkannya jemari gemetar itu
mencari seribu terakhirnya
sampai ketemu.
Kasir tetap menghitung satu per satu.
Susu.
Obat batuk.
Mi instan.
Sekeping logam terakhir jatuh ke telapak tangan.
Satu anggukan pelan melonggarkan antrean
Satu malam baik hati melepasnya pulang
tanpa perlu meminta maaf
kepada dunia.
Tangerang, 22 Mei 2026