Frans Wesley Simangunsong
Bersama dalam jedaKau pergi, namun jejakmu membeku di lantai katedral.
Di sana, doa kita melambung ke altar yang berbeda; tetapi saat jemari hampir bertaut,
takdir menarik garis batas tak kasat mata.
aku ingin kita bertumbuh sederhana,
bagaikan dua pohon yang berjauhan dahan namun akarnya membelit di kedalaman tanah.
biarlah kita sendiri-sendiri menantang badai,
selama di bawah sana kita meminum dari sumber air yang sama.
aku tahu raga ini akan punah menjadi debu.
namun aku bersyukur, sebelum nadi ini sunyi,
senyummu sempat singgah sebagai kenyataan dalam musim semi.
aku tak berharap bertemu tepat pada waktunya,
tapi diwaktu yang tepat.
saat semua sunyi yang kita lalui terpisah akhirnya menjawab satu tanya;
maukah kau tumbuh bersama ku?
DKI Jakarta, 10 mei 2026