Karya: Dwi Agustin Kartikasari, S.Pd.,M.Pd.
Di satu lingkaran meja, kita terjebak hening,
menyaksikan kepul uap yang perlahan mendingin.
Jemari kita nyaris bertaut tanpa sekat,
namun arah langkah di dada tak lagi serapat.
Wajahmu jelas di ruang tatapku,
tapi jiwamu berkelana melompati waktu.
Dulu, binar matamu adalah pelukan paling hangat,
kini serupa lorong sepi yang kehilangan pikat.
Ganjil melihat kita yang pernah seatap mimpi,
kini terjebak kecanggungan yang tak berpeta lagi.
Sapaanmu terdengar, tapi nadanya telah ganti;
riuh yang kucintai, kini menjelma sunyi yang menguliti.
Sebab pembatas kita bukanlah rentang peta,
melainkan rasa yang mengikis habis tanpa sisa.
Kita hanyalah dua orang asing bertopeng tenang,
menanti saat kepura-puraan ini harus tumbang.
Di ruang sedekat ini, kuberi kamu kebebasan,
merelakan benteng tak kasatmata mengunci kenangan.
Sebab menyentuh ragamu tanpa menggapai hatimu,
adalah rute paling sunyi untuk merindukanmu.
Probolinggo, 03 Agustus 1982