Dini Adelia Putri
Garis yang Tak TerabaGaris yang Tak Teraba
Kita duduk di bangku yang sama,
Ujung jemari nyaris bersentuhan di atas meja.
Namun ada jurang yang tak terlihat mata,
Membentang luas di antara tawa dan sapa.
Dua Sinyal yang Berbeda
Wajahmu terpantul jelas di retinaku,
Suaramu memantul akrab di telingaku.
Tapi jiwamu adalah labirin tanpa pintu,
Yang tak lagi bisa kumasuki seperti waktu itu.
Kita adalah dua planet dalam satu orbit
Terikat oleh gravitasi rutinitas yang rumit.
Saling memandang dari jarak yang tetap.
Namun tak pernah benar-benar mendekap.
Di Antara Kata dan Hening
Aku tahu warna kesukaanmu dan caramu minum kopi,
Tapi aku tak lagi tahu apa yang kau tangisi saat sepi.
Layar ponselmu lebih dekat ke matamu,
Daripada rindu yang coba kusampaikan padamu.
Kedekatan ini hanyalah sebuah ilusi geografi,
Sebab hati kita telah memilih untuk beremigrasi.
Kita sedekat napas yang beradu di udara,
Namun sejauh bintang yang hanya tinggal cahaya.
Titik Temu yang Hilang
Mungkin benar, jarak terjauh bukanlah kilometer,
Bukan pula samudera yang membuat langkah gemetar.
Jarak terjauh adalah saat aku tepat di sampingmu,
Namun aku tak lagi menemukan diriku di dalam matamu.
Batusangkar, 06 maret 2025