Dinda Puspita, S.Kom

SETELAH DEBU, AKU MENEMUKAN ARAH

Dulu sejadahku penuh debu dan bisu,
di hadapan mimbar yang tak meneduhkan.
Lalu kamu hadir di lintasan arahku,
menuntunku perlahan pada cahaya keabadian.

Tak kukenal wajahmu, sayup suaramu,
atau caramu mengepakkan sayap.
Namun arah kitalah yang menepatkan mata angin.
Berjuang dengan harap, tanpa tangis, tanpa ingin.

Tak kuduga, debu-debu kau sapu dengan belas kasih.
Tiada tekanan, tiada ancaman.
"Bersandarlah di sisiku," katamu.
Akan kuusap segala resah yang menggerogoti khawatirmu,
biar sembuh pelan-pelan.

Sebab sendiri adalah luka,
bersama adalah penuh ketenangan.

Sumenep, 05 Mei 2026