Karya: Cucu Siti Juariah
Kedua tangan bersatu dalam genggam yang padu.
Seolah bersama menuju arah yang satu.
Semua mata di dunia melihat itu.
Terpana sampai bibir membisu, lidah pun turut melayu.
Tapi tidak dengan dia pemilik mata di dinding kalbu.
Matanya menatap tajam hati yang mengelabu.
Tak lagi merah, tapi membiru karena cedera gerakan semu.
Mata di kepala berkata, tiada jarak di kedua raga itu.
Tapi mata di dinding kalbu melihatnya tidak begitu.
Usapan itu terasa kaku hingga tiada tinggal di kalbu.
Tatapan itu terasa tumpul, tak mampu jadikan kedua hati menyimpul.
Kedua tangan memang tertaut, tapi jiwa dan pikir tak jua mau menyambut.
Benteng perbedaan terlalu tinggi menjulang.
Romantis raga tak akan mampu mendobrak halang.
Dekat terlihat, tapi nyatanya itu hanya jauh yang tebuh.
Subang, 20 Mei 2026