Semesta yang Usai
Karya: Aprilia Fatihatussalamah GustiniKepadamu—
yang masih berpijak di bumi yang sama,
aku akhirnya mengerti
bahwa setiap insan memiliki masanya,
dan setiap masa memiliki manusianya.
Barangkali semesta memang pandai bercanda.
Mempertemukan dua jiwa
pada garis waktu yang saling menggenggam,
lalu diam-diam menjadikannya fana
sebelum sempat abadi.
Kita masih berada
di wilayah yang sama,
di bawah cakrawala yang sama,
bahkan menghirup angin senja
yang mungkin pernah singgah di bahumu, lalu sampai kepadaku.
Namun, seberapa dekat pun jarak,
jika waktunya telah usai,
semesta akan menjelma labirin—
membuat dua hati terus hidup berdampingan,
tetapi tak pernah benar-benar bertemu lagi.
Kini, aku baru menyadari—
selama ini, saat kita bersama,
kita hanya sedang mengenang
hal-hal yang perlahan akan luruh
menjadi aksara di kepala yang enggan sembuh.
Dan pada akhirnya,
kita hanyalah kisah
yang dititipkan sebentar oleh semesta.
Tentang dua jiwa yang pernah saling menjadi rumah,
lalu hilang dalam sunyi yang bernama takdir.
Bandung, 17 Mei 2026