Riam
Karya: ALEXANDRIA MARCHEILLA QUEEN KITUAda yang menanam sebatang pohon di nadiku. Kita bagai warna tanah sama, juga kerasnya rona di raut. Namun, saat sekejap angin melintas, cabang kita patah berlawanan arah.
Sekali tatap menjadi sepatah kata, runtuhlah jembatan rapuh itu. Kita dua aliran dari mata air sama, namun berkeras menuju muara berbeda. Angka tahun tidak pernah merekatkan retakan di meja makan.
Kita bertukar sepi di atap sama, membiarkan ego menjadi dinding tebal. Kucoba menghafal punggungmu kian menjauh, membaca jarak sengaja dipelihara. Sebab yang mengalir dalam tubuh ternyata tidak cukup mengartikan isi dada.
Kau laksana karang teguh, megah tapi terlalu tajam dipeluk. Aku ingin membuka gerbang rasa sepenuhnya untuk menggenggammu kembali. Namun, membiarkan bayangmu hadir lagi dengan utuh adalah kemustahilan. Kita dekat, namun di sepanjang sungai ini, kita hanyalah dua riam saling menghancurkan.
Kupang, 28 Mei 2026