Hastrat batin
Semesta
kata penjahit luka jiwa
hati ini seperti bejana
Yang penuh lumpur syahwat,
cahaya-Mu tak punya tempat duduk
Sangat sempit di tubuhku
Nafsu amarahku tak pernah sopan,
ia mendobrak tubuh ku
dengan suara paling keras,
mengira setiap tegang
adalah panggilan cinta.
Aku keliru,
mengira nikmat
sebagai tujunan utamanya ,
padahal kata sang nahkoda
itu cuma kabut tebal
yang menutup mata hati,dan mata pikiran
Aku ber mohon penuh
di ranjang keinginan,
menahan yang ingin meraih,
mematahkan yang ingin menguasai,
sebab cinta,harus dididik sepenuh hati
bukan dituruti, apalagi
cinta dalam nafsu
Semesta ini perih:
lapar yang disengaja,
diam yang dipaksa,
menjauh dari sentuhan dunia
agar sentuhan-Mu lebih terasa
Dan lebih nikmat
Setiap syahwat yang padam
meninggalkan kosong yang hampa
dan di kosong itu
aku dengar pelajaran keras:
yang nikmat cepat
tak pernah menetap,yang menetap
tak pernah berisik
.
Penjahit Luka Jiwa
mengingatkan,
bukan tubuh, musuh jiwa,
tapi cinta yang salah arah.
Maka luruskanlah ‘sanubari ini,
agar daging empuk ini tunduk
kepada makna.
Jika aku jatuh,biarlah jatuh ini
menjadi sadar;jika aku bangkit,
biarlah bangkit ini karena-Mu.
Semesta,
aku rawat qolbu seperti ladang.
mencabut gulma nafsu,
menyiram sabar,menunggu baqa
tumbuh pelan-pelan tanpa melihatkan.
Tuban 4 Mei 2026