Karya: Afra Naila Arkarna
Aku masih mengingat caramu tertawa,
Sangat jelas, seolah baru saja meredamnya.
Kau terasa dekat di lipatan ingatan terjaga,
Mengisi setiap sudut rumah yang kini senyap belaka.
Namun ketika kuulurkan tangan ke udara,
Jemariku hanya menyentuh angin yang hampa.
Barulah aku tersadar dengan dada yang lantak,
Bahwa kita kini dipisahkan batas yang mutlak.
Kau sedekat doa yang kukirim setiap malam,
Mengalir bersama air mata jatuh diam-diam.
Namun kau sejauh bintang di langit kelam,
Tak lagi terjangkau oleh dekap yang karam.
Kita kini sepasang takdir yang terbelah,
Berada di rumah sama, namun berbeda dunia.
Kau sedekat detak di dalam dadaku yang lelah,
Namun sejauh keabadian yang tak mampu kupeluk jua.
Sidoarjo, 23 Mei 2026