Menenun Arus
Dihadapan kita, arus sungai terasa tenang
Keruhnya air, bekas badai yang terjadi semalam
Hei kau!!, ya kau!!, memegang harapan yang mulai usang
Sedangkan aku, sibuk menambal kepercayaan yang mulai hilang
Mustahil untuk kita, menelan ombak dengan kepalan tangan
Sebab kita tau, tenggelamnya orang karena kemarahan
Kita memilih menenunya…
Menjadikan sembilu arus sebagai benangnya
Dan kesabaran sebagai jarum nir patah
Lihatlah, jari jemarimu mulai gemetar kedingan resiprokal
Saat dunia memutuskan untuk saling melepaskan
Dan lihatlah, bagaimana genggaman asaku sebagai titian
Sederhana, namun kuat menyeberangin ketakutan
Kita adalah dua raga yang sedang menyatukan sebuah irama
Bukan tentang siapa yang paling kuat mendayung
Tapi tentang bagaimana berpaut
Saat arus menyeret kearah yang saling berlawanan
Diujung sana, barangkali muara mulai menunggu
Membawa semua Lelah kita menjadi Nirmala
Sebab perjuangan yang kita tenun Bersama
Takkan pernah luntur meski dihantam ribuan cuaca
Yogyakarta, 08 Mei 2026