Menyemai Kasih dalam Bertahan

Karya: Purcahyono Hari Prasetyo



Aku menyemai kasih
bukan di tanah lapang yang basah atau kering
tetapi di celah hari yang sering luput dipandang.

Benihnya kecil—
sebutir sabar, tak mesti dengan suara menggelegar,
tiap pagi secangkir kopi hangat di meja.
sejumput mendengar, rintih batuk pilek
di musim yang tak dapat diterka.

Kutaburkan bumbu pada wajah yang lelah,
senyum manis di meja kayu,
lele goreng serta sambal terasi.
Bertahan dalam godaan mengilapnya mercedes,
merawat syukur masih bisa menyemai benih cinta

Kasih tidak selalu tumbuh cepat.
Ia menunggu hujan doa, membasuh luka yang memang tak ada,
mengusap satu-satu air mata;
pada khilaf sebagai penghias romansa,
merangkak lewat akar yang tak terlihat,
dan kadang baru berbunga
setelah lama tak disebut.

Namun cinta tetaplah bersemai di lorong sepi,
dalam percakapan singkat,
di hati yang tak mungkin lupa
bahwa ia pernah dicintai.

Sebab menyemai kasih dalam bertahan
bukan soal menunggu badai akan usai,
melainkan menjaga hati
tetap punya tempat untuk tumbuh.



Banyumas, 04 November 2026