Lentera Di Tengah Badai

Karya: Intan Kurnia Shafitri



Ketika langit meruntuhkan seluruh egonya,
dan malam menjelma belati yang siap sedia.
Aku memilih diam, membasuh perih yang menganga,
berdiri tegak di atas bumi yang penuh huru-hara.

Puing kegagalan belum sempat kurapikan,
meninggalkan lebam yang enggan disembuhkan.
namun jiwa ini menolak mengeja kepasrahan,
karena mundur adalah bentuk nyata kekalahan.

Biarlah gulita meraba benteng yang mulai retak,
mencoba mengubur mimpi yang terjaga dalam benak.
Tapak kaki ini telah ditempa batu karang tangguh,
takkan roboh walau angin malam berembus angkuh.

Ada sisa lentera yang sengaja kurawat di dada,
menjadi pemandu jalan saat kompas tiada daya.
Sebab bertahan bukan sekadar sangkara,
melainkan seni menjemput fajar di balik marabahaya.


Medan, 4 November 2026